Artikel 5
Bangunan pura memang sangat melekat dengan Pulau Dewata Bali. Tapi di
Pulau Bangka juga terdapat pura sebagus di Bali. Pura Simpang Rimba
namanya, berada di Kabupaten Bangka Selatan. Mau tahu?
Pura merupakan rumah ibadah pemeluk agama Hindu. Di Indonesia, pura
banyak terdapat di Pulau Dewata, Bali, yang mayoritas penduduknya memang
pemeluk agama Hindu. Sangat jarang sekali ditemukan pura di
tempat-tempat lain. Apalagi di daerah yang jaraknya jauh sekali dari
Pulau Bali.
Namun siapa mengira, ternyata di Pulau Bangka yang jaraknya
barangkali ratusan kilometer dari Pulau Bali, ada bangunan pura yang
dibangun oleh pemeluk Hindu. Padahal, selain jaraknya yang jauh dari
Bali, Pulau Bangka juga dikenal sebagai tanah Melayu yang penduduknya
Muslim.
Nah, inilah mungkin keunikan Pulau Bangka di mana toleransi antar
umat beragama tetap erat terjaga di sana. Orang-orang di sana hidup
rukun satu sama lain, tak memandang agama. Sekali pun penduduknya
mayorita Muslim, bukan berarti mereka tidak menerima kedatangan pemeluk
agama lain.
Buktinya, selain tempat ibadah agama Islam yang mudah ditemui, di
sana banyak terdapat banguanan rumah ibadah agama lain. Bahkan, jangan
heran bila sesekali Anda melihat bangunan masjid yang berdampingan
dengan kelenteng, tempat ibadah penganut Kong Hu Cu.
Selain itu, di sana ternyata juga ada pura, tempat ibadah umat Hindu.
Beda dengan kelenteng yang dengan mudah ditemui di setiap sudut
kota-kota utama di Pulau Bangka, pura justru sebaliknya.
Pura yang ada di Pulau Bangka terletak di Dusun Trans III, Desa
Simpang Rimba, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan,
sekitar 11O kilometer dari Toboali, ibukota Kabupaten Bangka Selatan.
Selain dari Toboali, akses menuju Pura Simpang Rimba juga bisa langsung
dari Pangkalpinang.
Suatu hari, berbekal rasa penasaran, saya pergi menyambangi Pura
Simpang Rimba bersama sahabat karib saya Ahmad Faisal yang sekarang
bekerja di Samarinda, Kalimantan Timur. Mengendarai sepeda motor, dari
Pangkalpinang kami berdua menuju Simpang Rimba di Bangka Selatan.
Di sepanjang jalan, tak lupa kami bertanya pada warga yang kami temui
perihal lokasi pura itu. Akhirnya, sampailah kami di komplek pura yang
berada di lingkungan asri dengan pepohonan dan perkebunan warga di
sekelilingnya.
Pura di Simpang Rimba ada dua yang jaraknya saling berdekatan, yakni
Pura Puseh Wanasari dan Pura Penataran Peed. Semuanya dibangun oleh
orang Hindu dari Bali yang merantau ke Bangka suatu ketika dengan
beragam alasan. Seorang warga yang diberi tugas mengelola dan menjaga
pura-pura itu bercerita bahwa pura tersebut sengaja tidak diberi warna.
Alasannya biar alami sebagaimana hubungan manusia dengan Sang Maha
Pencipta.
Selain di Desa Simpang Rimba, ternyata ada pula pura lain yang ada di
desa-desa sekitar, seperti pura di Desa Sumber Jaya Permai dan Desa
Pancal Tunggal yang berada di Kecamatan Pulau Besar, masih kabupaten
yang sama. Nah, Anda yang belum sempat ke Bali, terutama warga sekitar
Bangka yang ingin melihat pura secara langsung, datanglah ke Simpang
Rimba.
Sumber : Detik Travel
bangka island
parai
Jumat, 02 Mei 2014
Sony A77 II: Lebih Bersih Noise di ISO Tinggi
Artikel 4
Meskipun fokus utama pengembangan Sony lebih ke sistem mirrorless Alpha E-mount dan FE-mount dalam bentuk Sony A6000 dan keluarga A7 (A7R, A7S, A7), ternyata vendor Jepang ini masih perhatian kepada pengguna Sony Alpha digital SLT (single lens translucent) yang bentuknya mirip dengan DSLR karena masih mengunakan cermin yang translucent.
DSLT berbeda dengan DSLR pada umumnya, karena cermin di SLT tembus cahaya, sebagian kecil cahaya yang tembus akan menuju modul autofokus sehingga mempercepat sistem autofokus kamera. Teknologi ini akan membantu saat memotret atau merekam subjek yang bergerak.
Sony A77 generasi kedua ini dirancang untuk
photographer enthusiasts (penggemar fotografi) dan dari fisiknya mirip sekali
dengan Sony A77 generasi pertama. Kebanyakan peningkatan berasal dari dalam
kamera.
Sony mengklaim bahwa generasi kedua ini memiliki sistem autofokus yang lebih cepat daripada A77 generasi pertama, dan juga kualitas gambarnya 20% lebih bersih noise di ISO tinggi.
Kini A77 II memiliki 79 titik fokus deteksi fasa (lebih cepat dibandingkan deteksi kontras) dan 15 di antaranya tipe silang (cross-type) yang sensitif. Jumlah titik fokus ini jauh lebih banyak daripada versi A77 I yang hanya memiliki 19 titik fokus.
Dengan banyaknya titik fokus deteksi fasa, memotret atau merekam subjek yang bergerak tentunya jadi lebih mudah daripada sebelumnya. Sony juga mengklaim kualitas layar LCD dengan teknologi White Magic dan jendela bidik elektronik lebih terang saat berada diluar ruangan
Sony mengklaim bahwa generasi kedua ini memiliki sistem autofokus yang lebih cepat daripada A77 generasi pertama, dan juga kualitas gambarnya 20% lebih bersih noise di ISO tinggi.
Kini A77 II memiliki 79 titik fokus deteksi fasa (lebih cepat dibandingkan deteksi kontras) dan 15 di antaranya tipe silang (cross-type) yang sensitif. Jumlah titik fokus ini jauh lebih banyak daripada versi A77 I yang hanya memiliki 19 titik fokus.
Dengan banyaknya titik fokus deteksi fasa, memotret atau merekam subjek yang bergerak tentunya jadi lebih mudah daripada sebelumnya. Sony juga mengklaim kualitas layar LCD dengan teknologi White Magic dan jendela bidik elektronik lebih terang saat berada diluar ruangan
Beberapa tahun yang lalu, desain SLT merupakan
satu-satunya teknologi autofokus yang bisa mengikuti subjek bergerak dengan
cepat saat merekam video atau memotret dengan mengunakan layar LCD / Live view.
Saat
itu, sebagian besar sistem autofokus kamera DSLR maupun mirrorless masih belum
mampu mengikuti subjek yang bergerak cepat saat posisi live view.
Tapi saat ini sudah mulai banyak kamera yang cukup mumpuni dalam mengikuti subjek yang bergerak, katakanlah, Canon 70D dengan sensor AF hybrid yang dibenamkan di dalam image sensor.
Ada juga Olympus OMD EM1 dan Fuji XT-1 yang biarpun masih mengunakan teknologi contrast detect, tapi sudah sangat cepat dan cukup handal mengikuti subjek bergerak asal tidak terlalu cepat seperti burung.
Maka itu Sony A77 II mungkin hanya menarik bagi pengguna Sony Alpha dan SLT yang sudah memiliki banyak lensa dan aksesoris Sony Alpha atau lensa legacy dari Konica Minolta.
Pengumuman kamera ini merupakan angin segar bagi pengguna setia Sony Alpha yang terbukti memang belum meninggalkan mereka.
Spesifikasi Sony A77 II:
Tapi saat ini sudah mulai banyak kamera yang cukup mumpuni dalam mengikuti subjek yang bergerak, katakanlah, Canon 70D dengan sensor AF hybrid yang dibenamkan di dalam image sensor.
Ada juga Olympus OMD EM1 dan Fuji XT-1 yang biarpun masih mengunakan teknologi contrast detect, tapi sudah sangat cepat dan cukup handal mengikuti subjek bergerak asal tidak terlalu cepat seperti burung.
Maka itu Sony A77 II mungkin hanya menarik bagi pengguna Sony Alpha dan SLT yang sudah memiliki banyak lensa dan aksesoris Sony Alpha atau lensa legacy dari Konica Minolta.
Pengumuman kamera ini merupakan angin segar bagi pengguna setia Sony Alpha yang terbukti memang belum meninggalkan mereka.
Spesifikasi Sony A77 II:
- 24MP CMOS APS-C sensor
- 3" white magic LCD
- Kecepatan foto berturut-turut 12 fps
- 79 titik autofokus deteksi fasa, 15 di antaranya cross-type
- Tersedia Juni 2014
- Harga: USD 1.199 tanpa lensa, USD 1.799 dengan lensa 16-50mm f/2.8
Sumber : Detik
Kamis, 01 Mei 2014
BENTUK KARANGAN
Definisi dan Perbedaan Skripsi, Tesis, dan Disertasi
Definisi Skripsi
Skripsi
merupakan karya tulis ilmiah berdasarkan hasil penelitian lapangan dan atau
studi kepustakaan yang disusun mahasiswa sesuai dengan bidangstudinya sebagai tugas akhir dalam studi formalnya
di Perguruan Tinggi. Skripsi dalam dunia pendidikan berarti suatu
hasil penyusunan tulisanilmiah yang telah dibuktikan kebenarannya berdasarkan
data - data yang telahdikumpulkan dan tentunya data yang dikumpulkan diolah
untuk kemudianmenjadi data yang valid sebagai bahan acuan buat membuktikan
kebenaran suatutulisan tersebut.
Skripsi adalah
laporan tertulis hasil penelitian yang dilakukan olehmahasiswa dengan bimbingan
Dosen Pembimbing Skripsi untuk dipertahankan dihadapan Penguji Skripsi sebagai
syarat untuk memperoleh derajat SarjanaSkripsi merupakan karya tulis ilmiah
berdasarkan hasil penelitian yangdilakukan
oleh seorang mahasiswa sebagai tugas akhir untuk memperoleh gelar sarjana.
Berdasarkan definisi awam yang dirumuskan skripsi mengandungkomponen pengertian
berikut : Karya tulis, Ilmiah, Hasil Penelitian, Dilakukanoleh mahasiswa,
Berkualifikasi sarjana(Rahyono Fx, 2010:23).
Skripsi adalah istilah
yang digunakan di Indonesia untuk mengilustrasikansuatu karya tulis ilmiah
berupa paparan tulisan hasil penelitian sarjana S1 yangmembahas suatu
permasalahan / fenomena dalam bidang ilmu tertentu denganmenggunakan
kaidah-kaidah yang berlaku. Skripsi merupakan karya tulis ilmiah berdasarkan hasil penelitian
lapangan dan atau studi kepustakaan yang disusunmahasiswa sesuai dengan bisang
studinya sebagai tugas akhir dalam studiformalnya di Perguruan Tinggi.Skripsi
adalah karya ilmiah yang ditulis mahasiswa program S-1 yangmembahas topik atau
bidang tertentu berdasarkan hasil kajian pustaka yang ditelitioleh para ahli,
hasil penelitian lapangan atau hasil pengembangan atau eksperimen(Munslich
Mansnur, 2009: 4)
Definisi Tesis
Tesis, adalah karya ilmiah yang ditulis dalam rangka penyelesaian studi
pada tingkat program Strata Dua (S2), yang diajukan untuk dinilai oleh tim
penguji guna memperoleh gelar Magister. Pembahasan dalam tesis mencoba
mengungkapkan persoalan ilmiah tertentu dan memecahkannya secara analisis
kristis. Tesis merupakan bukti kemampuan yang bersangkutan dalam penelitian dan
pengembangan ilmu pada salah satu bidang keilmuan dalam Ilmu Pendidikan.
Definisi Disertasi
Disertasi adalah karya tulis ilmiah resmi akhir seorang mahasiswa dalam
menyelesaikan Program S3 ilmu pendidikan. Disertasi merupakan bukti kemampuan
yang bersangkutan dalam melakukan penelitian yang berhubungan dengan penemuan
baru dalam salah satu disiplin Ilmu Pendidikan.
Disertasi atau
Ph.D Thesis ditulis berdasarkan metodolologi penelitian yang mengandung
filosofi keilmuan yang tinggi. Mahahisiswa (S3) harus mampu (tanpa bimbingan)
menentukan masalah, berkemampuan berpikikir abstrak serta menyelesaikan masalah
praktis. Disertasi memuat penemuan-penemuan baru, pandangan baru yang
filosofis, tehnik atau metode baru tentang sesuatu sebagai cerminan
pengembangan ilmu yang dikaji dalam taraf yang tinggi.
Perbedaan
Skripsi, Tesis, dan Disertasi
Secara umum, perbedaan antara skripsi,
tesis, dan disertasi dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek kuantitatif dan
aspek kualitatif. Dari aspek kuantitatif, secara literal dapat dikatakan bahwa
disertasi lebih berat bobot akademisnya daripada tesis dan tesis lebih berat
bobot akademisnya daripada skripsi. Ketentuan ini hanya dapat diberlakukan
untuk jenis karya ilmiah yang sama (sama-sama hasil penelitian kuantitatif atau
sama-sama hasil penelitian kualitatif; dan dalam bidang studi yang sama pula (misalnya
sama-sama tentang bahasa atau sama-sama tentang ekonomi). Artinya, disertasi
mencakup bahasan yang lebih luas daripada tesis, dan tesis mencakup bahasan
yang lebih luas atau lebih dalam daripada skripsi. Namun ukuran kuantitas ini
tidak dapat diberlakukan jika skripsi, tesis, dan disertasi
dibanding-bandingkan antarbidang studi atau antarjenis penelitian. Oleh karena
itu perbedaan skripsi, tesis, dan disertasi biasanya tidak hanya dilihat dari
aspek kuantitatif, tetapi lebih banyak dilihat dari aspek kualitatif.
Pada dasarnya, aspek-aspek kualitatif
yang membedakan skripsi, tesis, dan disertasi dapat dikemukakan secara
konseptual, namun sulit untuk dikemukakan secara operasional. Berikut
dikemukakan aspek-aspek yang dapat membedakan skripsi, tesis, dan disertasi,
terutama yang merupakan hasil penelitian kuantitatif.
Skripsi, tesis dan disertasi adalah KTI (Karya Tulis Ilmiah) dalam suatu bidang studi yang masing-masing ditulis
oleh mahasiswa program S1, S2 dan S3. Perbedaan ketiganya secara relatif
disebabkan oleh kedalaman, keluasan, dan sifat temuan yang lebih asli atau
kurang asli, serta kekritisan dalam membahas pendapat orang lain.
Temuan pada disertasi dituntut lebih
asli dibanding temuan pada tesis dan skripsi. Demikian pula, temuan pada tesis
diharapkan lebih asli dibanding temuan pada skripsi.
Disertasi dituntut untuk sangat kritis dalam membahas temuan-temuan atau teori-teori yang lain, dan dapat secara tegas menunjukkan posisinya ketika membahas dan mengevaluasi temuan-temuan lain sebelumnya. Disertasi itu biasanya wajib mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasarkan data dan fakta yang sahih (valid) dan dengan analisis yang terinci.
Disertasi dituntut untuk sangat kritis dalam membahas temuan-temuan atau teori-teori yang lain, dan dapat secara tegas menunjukkan posisinya ketika membahas dan mengevaluasi temuan-temuan lain sebelumnya. Disertasi itu biasanya wajib mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasarkan data dan fakta yang sahih (valid) dan dengan analisis yang terinci.
Sumber :
Ruslijanto, Hartono. 1999. Metode Penulisan Dan Penyajian Karya Ilmiah.
Jakarta: EGC
Langganan:
Postingan (Atom)

